Rabu, 29 April 2015

Filsafat Ar-Razi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ar-Razi merupakan tokoh filsuf yang sangat terkenal, karya-karyanya banyak dijadikan patokan oleh filsuf-filsuf dimasa sekarang. Dalam autobiografinya pernah ia katakan, bahwa ia telah menulis kurang dari 200 buah karya tulis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Di samping karya-karyanya yang hampir setiap aspeknya menyangkut bidang kedokteran, ada pula karya-karyanya yang berkaitan dengan fisafat kimia, astronomi, tata bahasa, teologi, logika, dan ilmu pengetahuan lain.
Bukunya paling besar adalah “Al-Hawi”, buku tersebut merupakan sebuah ensiklopedia dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh  seorang Yahudi. Namanya adalah Faraj Ibn Salim, adapun di antara karya-karyanya yang lain adalah: Risalah tentang Filsafat, Pengobatan Rohani, Sejarah Filsafat, Maqolah tentang metafisika, dll. Banyak sekali ilmu-ilmu yang diBanyak sekali ilmu-ilmu yang di populerkan dan di hasilkan oleh Ar-Razi. Oleh karena itu, saya mencoba untuk menjelaskan tentang sepak terjang perjalanan Ar-Razi.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang dia atas, saya akan mencoba menjelaskan tentang:
1.    Riwayat hidup Ar-Razi ?
2.    Karyanya ?
3.    Filsafatnya ?

C.     Tujuan
Agar mengetahui riwayat hidupnya, karyanya semasa beliau hidup, filsafat yang dihasilkan oleh Ar-Razi.

D.    Metode Penyusunan
Untuk menambah pengetahuan tentang Ar-Razi. Metode yang saya menggunakan buku-buku referensi di perpustakaan dan internet untuk menambahkan bacaan yang di gunakan dalam menyusun makalah ini.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi
Nama lengkap Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya Al-Razi.[1][1] Dalam wacana keilmuan Barat dikenal dengan sebutan Rhazes. Beliau dilahirkan di Ray, di propinsi khurasan di sebuah kota tua yang dulu bernama Rhogee, dekat Teheran, Republik Islam Iran pada tanggal 1 sya’ban 251H/865M.[2][2]
Ada beberapa nama tokoh lain yang juga di panggil Al-Razi, yakni Abu Hatim Al-Razi, Fakhruddin Al-Razi dan Najmuddin Al-Razi. Oleh karena itu, untuk membedakan Al-Razi sang filosof ini dari tokoh-tokoh lain, perlu datambahkan dengan sebutan Abu Bakar yang merupakan nama kun-yah-nya (gelarnya).
Pada masa mudanya ia pernah menjadi tukang intan, penukar uang (money changer), dan pemain kecapi, sebelum beralih ke filsafat dan kedokteran. Ia memperoleh repotasi yang demikian baikdalam bidang yang terakhir (kedokteran), sehingga ia diangkat menjadi kepala rumah sakit di kota asalnya semasa usianya kira-kira menjelang tiga puluh tahun, dan kemudian mengambil alih kepemimpinan rumah sakit di Baghdad. Pada umumnya ia terkenal, seperti yang dikatakan sendiri oleh para ahli, sebagai “dokter islam yang tidak ada bandingannya”.
Sebenarnya ayahnya berharap agar Al-Razi mengikuti profesinya sebagai pedagang. Oleh karena itu, ayahnya membekali diri Al-Razi dengan ilmu-ilmu perdagangan. Namun, ternyata Al-Razi lebih memilih bidang intelektual dari pada pedagang. Hal ini, menurut Abdul Latif Muhammad Al-‘Abd, merupakan indikasi bahwa ia memilih perkara-perkara yang lebih besar ketimbang hanya mementingkan materi belaka.[3][3]
Perlu pula diingatkan tentang lingkungan Al-Razi tempat ia berdomisili. Telah dimaklumi bahwa Iran, yang sebelumnya terkenal dengan Persia, sejak lama sudah terkenal dengan sejarah peradaban manusia. Kota ini merupakan tempat pertemuan berbagai peradaban, terutama peradaban Yunani dan Persia. Dalam bidang penyatuan kebudayaan Persia dan Yunani inilah terletaknya salah satu jasa dari Alexander Yang Agung pada tahun 331 SM.[4][4] Oleh karena itu, tidak mengherankan kota-kota di Persia (Iran) ini telah mengenal peradaban yang tinggi jauh sebelum bangsa Arab mengenalnya. Agaknya suasana lingkungan ini termasuk yang mendorong bakat Al-Razi tampil sebagai seorang intelektual.
Disiplin ilmu Al-Razi meliputi ilmu falak, matematika, kimia, kedokteran,dan filsafat. Ia lebih terkenal sebagai ahli kimia dan ahli kedokteran dibanding sebagai seorang filosof. Ia sangat rajin menulis dan membaca, agaknya inilah yang menyebabkan penglihatannya berangsur-angsur melemah dan akhirnya buta total. Akan tetapi, ia menolak untuk diobati dengan mengatakan pengobatan akan sia-sia belaka karena sebentar lagi ia akan meninggal. Akhirnya pada tanggal 5 Sya’ban 313 H/ 27 Oktober 925 M dalam usia 60 tahun.[5][5]
Al-Razi mengaku dalam autobiografinya telah menyusun tidak kurang dari 200 karyatentang semua bidang pengetahuan fisika dan metafisik, karya medisnya paling besar ialah “al-Hawi”, yang malah lebih dikenal dengan sebutan al-Jami’ yaitu ikhtisar ilmu kedokteran, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1279 dengan Continens dan beredar luas di lingkugan ilmu kedokteran sampai abad ke-16.[6][6]
B.     Karya-karya Al-Razi
Al-Razi termasuk seorang filosof yang rajin belajar dan menulis sehingga tidak mengherankan ia banyak menghasilkan karya tulis. Dalam autobiografinya ia pernah mengatakan, bahwa ia telah menulis tidak kurang dari 200 buah karya tulis dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
     Karya tulisnya dalam bidang kimia yang terkenal ialah Kitab al-Asrar yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh Geard fo Cremon. Dalam bidang medis karyanya yang terbesar ialah al-Hawi yang merupakan ensiklopediilmu kedokteran, diterjemahkan kedalam bahasa Latin dengan judul Continens yang tersbar luas dan menjadi buku pegangan utama dikalangan kedokteran Eropa sampai abad ke-17. Kitab al-Judar wa al-Hasbah tulisannya yang berisikan analisis tentang penyakit cacar dan campak beserta pencegahannya, diterjemahkan orang kedalam berbagai bahasa barat dan terakhir ke dalam bahasa Inggris tahun 1847 M, dan dianggap buku bacaan wajib Ilmu kedokteran barat.[7][7]
          Disamping karya-karyanya yang hampir setiap aspeknya menyangkut bidang kedokteran, ada pula karyanya yang berkaitan dengan filsafat kimia, astronomi, tata bahasa, teologi, logika, dan ilmu pengetahuan lain. Hanya sejumlah kecil karya-karyanya yang sampai pada kita, diantaranya:
1. Kitab al-Asrar (bidang Kimia, diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Geard of Cremon)
2. Al-Hawi (merupakan ensiklopedia kedokteran sampai abad ke 16)
3. Al-Mansuri Liber al-Mansoris (bidang kedokteran, 10 jilid)
4.      Kitab al-Judar wa al Hasban (tentang analisa penyakit cacar dan campak)
5.      Al-Thibb al-Ruhani
6.      Al-Sirah al-Falsafiyyah
7.      Amarah al-Iqbal al-Dawlah
8.      Kitab al-Ladzdzah
9.      Kitab al-‘Ilm al-Illahi
10.  Maqalah fima ba’d al-Thabi’yyah, dan
11.  Al-Shukuk ‘ala proclus.[8][8]

C.    Pokok-Pokok Filsafat Al-Razi
            Perhatian utama filsafat al-Razi adalah jiwa, kemudian lima yang kekal. Setelah itu, moral, kenabian dan agama, yang merupakan sisi pengembangan daya kritik intelektualnya.
Lima yang Kekal
Prinsip lima yang kekal (five co-eternal principles/ al-mabadi’ al-Qadimah al-Khamsah) menurut al-Razi adalah: (1) Sang Pencipta, (2) jiwa universal, (3) materi pertama, (4) ruang absolut, dan (5) waktu absolut.
Al-Razi memberikan penjelasan secara pasrial demikian:
1)   Allah Ta’ala
            adalah Sang Pencipta segalanya dan pengatur seluruh alam ini, Dia Maha Tinggi dan Kekuasaan-Nya tidak ada yang menyamai.
2) Jiwa universal
adalah jiwa yang hidup dari jasad ke jasad sampai suatu waktu menemukan kebebasan yang hakiki. Pada benda benda alam terdapat daya hidup dan gerak yang sulit diketahui karena ia tanpa bentuk yang berasal dari jiwa Universal yang juga bersifat kekal. Tetapi karena ia dikuasai naluri untuk bersatu dengan materi pertama, maka terjadilah pada dzatnya bentuk yang dpat menerima fisik. Sedangkan materi pertama tanpa fisik , maka Tuhan dating menolong roh dengan mebciptakan alam semesta termasuk badan manusia yang ditempati roh, agar jiwa itu dapat melampiaskan nafsu kejinya dengan mengambil bagian kesenangan-kesenangan materil untuk sementara waktu. Namun begitu, Allah menciptakan akal, dan merupakan limpahan dari Allah. Tujuan penciptaannya untuk menyadarkan jiwa yang terlena dalam fisik manusia, bahwa tubuh itu bukan tempat yang sebenarnya, bikan tempat kebahagiaan dan tempat abadi.
3)   Materi pertama
            adalah materi yang dari padanya Allah menciptakan dunia. Materi ini terdiri dari atom-atom yang mempunyai volume. Atom-atom ini mengisi ruang sesuai dengan kepadatannya. Tanah merupakan atom yang paling padat, kemudian air, hawa dan api.
4)   Ruang absolut
adalah adalah ruang yang abadi. Ruang dipahami oleh Al-RAzi sebagai konsep yang abstrak, dan menurutnya Ruang dapat dibedakan menjadi 2 macam: yaitu ruang particular atau relative dan ruan universal atau mutlak. Yang pertama yaitu ruang particular dalam arti terbatas dan terikat dengan sesuatu wujud yang menempatinya, ia tidak aka nada tanpa adanya maujud, karenanya ia tidak bias dipahami secara terpisah dengan maujud. Ruang particular ini akan terbatas dengan terbatasnya maujud, berubah dan lenyap sesuai dengan keadaan maujud yang ada didalamnya. Sedangkan yang kedua yakni universal tidak terkait dengan maujud dan tidak terbatas. Ruang bagi Al-Razi bias berisi wujud atau yang bukan wujud, karena adanya kehampaan bias saja terjadi.
5)   Masa absolut
adalah masa yang abadi Adapun waktu atau masa menurut Al-Razi adalah substansi yang mengalir yang bersifat kekal. Al-Razi membagi waktu kepada dua bagian: yaitu waktu mutlak dan waktu relative. Waktu mutlak adalah waktu yang tidak memiliki awal dan akhir serta bersifat universal, terlepas Sama sekali dari ikatan alam semesta. Sedangkan waktu relatif bersifat particular dan tidak kekal serta terbatas karena ia terikat dengan gerakan falak, terbit dan tenggelamnya matahari.
D.    Moral
Gagasan al-Razi tentang moral beraset konsep transmi­grasi jiwanya, yang tertuang dalam karyanya Philosophical Way (Jalan Filsafat), tarutama berkenaan dengan masalah penyembelihan hewan. Al-Razi merasa terganggu oleh penderitaan hewan, teru­tama yang diakibatkan oleh perlakuan manusia. Menurutnya, penyembelihan hewan buas dapat dibenarkan sebagai pemeliharaan terhadap terhadap kelangsungan hidup manusia. Tetapi hal itu tidak dapat diterapkan kepada hewan-hewan piaraan. Menurut hematnya, bahwa penyembelihan itu diartikan sebagai pembebasan jiwa mereka dari penghambaan kepada tubuh, dan dengan demikian menjadikan mereka lebih dekat dengan takdir akhirnya. dengan memberikan kemungkinan bagi mereka “tinggal dalam tubuh lain yang lebih baik, seperti tubuh manusia.
Kenabian dan Agama
            Bagi al-Razi, akal menjadi kompas utama dalam kehidupan setiap manusia. Akal diberikan oleh Tuhan kepada setiap insan dalam kekuatan yang sama. Perbedaan timbul karena pengaruh pendidikan, lingkungan dan suasana. Manusia bebas untuk menerima ilmu pengetahuan dari manapun sumbernya. Sebab, ilmu itulah yang akan menyucikan jiwanya, untuk dapat kembali kepada Tuhannya.
            Al-Razi tidak percaya kepada para Nabi. Sebab, mereka dipandangnya hanya membawa kehancuran bagi manusia. Kebenar­an wahyu yang didakwahkannya, tidak benar adanya. Oleh karenanya, al-Qur’an dengan uslubnya tidak merupakan mu’ji­zat bagi Muhammad. Ia hanya sebagai buku biasa. Nikmat akal lebih kongkret daripada wahyu. Oleh karena itu, kegiatan membaca buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya lebih berar­ti daripada membaca buku-buku agama.  Selanjutnya, dalam hubungan kenabian dan agama, al-Razi menegaskan bahwa para Nabi tidak berhak mengklaim bahwa mereka memiliki keistimewaan khusus, baik rasional maupun spiritual, karena semua manusia sama. Padahal keadilan dan kemahahakiman Tuhan memastikan untuk menolak memberikan keistimewaan kepada seseorang di atas orang lain.    Sedangkan mukjizat dipandangnya sebagai bagian dari mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradik­tif, karena satu sama lain saling menghancurkan, dan tidak sesuai dengan pernyataan bahwa ada realitas permanen. Hal itu dikarenakan setiap Nabi membatalkan risalah pendahulunya, akan tetapi menyerukan bahwa apa yang dibawanya adalah kebenaran, bahkan tidak ada kebenaran lain, dan menusia menjadi bingung tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang dianut. Semua agama merupakan sumber peperangan yang menimpa manusia sejak dulu, di samping merupakan musuh filsafat dan ilmu pengetahuan.
            Alur pikiran di atas dapat dipahami, bahwa, dalam pandangan al-Razi, agama itu hanya warisan tradisional yang diikuti oleh masyarakat karena tradisi saja. Oleh karena pandangannya yang demikian, maka al-Razi dapat disebut seorang ateis, karena mengkritik semua agama. Tetapi di sisi lain, ia seorang monoteis sejati yang mengaku adanya Tuhan Pencipta, sehingga baginya, nabinya adalah akalnya sendiri. Kritik terhadap al-Razi, dengan cara yang tajam pernah disampaikan oleh Abu al-Hatim al-Razi (w. 330 H.) –seorang yang sezaman dan senegara dengan al-Razi–dalam kitabnya A’lam al-Nubuwwah. Di dalamnya tidak ditegaskan nama al-Razi, akan tetapi cukup mengarahkan kritiknya kepada orang yang disebutnya al-Mulhid (sang ateis). Namun ada indikasi pasti yang menunjukkan bahwa sang ateis ini bukan orang lain selain al-Razi. Buku tersebut memuat protes fundamental yang diarahkan oleh al-Razi kepada kenabian dan pengaruhnya secara sosial. Protes-protes ini, secara global, mendekati semua protes yang sebelumnya telah dikobarkan oleg al-Rowan­di. Seakan kedua tokoh tersebut mengulangi nada yang sama.
            Sebenarnya al-Rowandi –rekan sezaman dengan al-Razi-amat masyhur dan mempunyai keberanian intelektual yang luar biasa, sampai-sampai ia benar-benar berani memperolokkan al-Qur’an dengan meniru-nirukannya dan menertawakan Muhammad. Tetapi, namanya tertutupi oleh al-Razi. Dalam hemat penu­lis, di antara kemungkinan ketertutupan ini adalah karena al-Rowandi terfokus pada arogansi intelektual dan karyanya tidak seberapa banyak. Sedangkan al-Razi, di samping karya filsafatnya lebih banyak daripada karya al-Rowandi, juga karena reputasi kepustakaan maupun jasa pelayanan sosialnya di bidang medis. Apalagi karya al-Hawinya telah menembus jaringan prestisius di Eropa selama lima abad.
            Ar-Razi lebih terkenal sebagai ahli dalam ilmu kedokteran (sains) ketimbang ilmu spekulatif (filsafat). Oleh karena itu, dalam penjelasannya tentang akal berdasarkan semangat rasional empiris eksperimental, hal yang mengesankan ialah bahwa ia hanya percaya pada akal semata dan tidak lagi percaya kepada wahyu. Badawi menerangkan alasan-alasan Ar-Razi dalam menolak kenabian sebagai berikut:
a)      Akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, yang berguna dan tidak berguna. Dengan akal saja manusia mampu mengetahui Allah dan mengatur kehidupannya dengan sebaik-baiknya.
b)      Tidak ada alasan yang kuat bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang karena semua orang lahir dengan kecerdasan yang sama.
c)        Para nabi saling bertentangan.
Kemudian Ar-Razi juga mengkritik agama secara umum. Ia juga menjelaskan kontradiksi Yahudi, Kristen, Mani dan Majusi secara rinci. Bahkan lebih lanjut ia katakan tidaklah masuka akal Allah mengutus para Nabi sebab mereka menimbulkan kemudorotan.





























BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Riwaya Hidupnya:
            Nama lengkap Ar-Razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu     Yahya Al-Razi. Dalam wacana keilmuan Barat dikenal dengan sebutan Rhazes. Beliau dilahirkan di Ravy, di propinsi khurasan di sebuah kota tua yang dulu bernama Rhogee, dekat Teheran, Republik Islam Iran pada tanggal 1 sya’ban 251M/865M.
Karyanya:
          Karya tulisnya dalam bidang kimia yang terkenal ialah Kitab al-Asrar yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh Geard fo Cremon. Dalam bidang medis karyanya yang terbesar ialah al-Hawi yang merupakan ensiklopediilmu kedokteran, diterjemahkan kedalam bahasa Latin dengan judul Continens yang tersbar luas dan menjadi buku pegangan utama dikalangan kedokteran Eropa sampai abad ke-17. Kitab al-Judar wa al-Hasbah tulisannya yang berisikan analisis tentang penyakit cacar dan campak beserta pencegahannya, diterjemahkan orang kedalam berbagai bahasa barat dan terakhir ke dalam bahasa Inggris tahun 1847 M, dan dianggap buku bacaan wajib Ilmu kedokteran barat.
Filsafatnya:
1. Lima Kekal (kadim)
2. Akal, Kenabian dan Wahyu












DAFTAR PUSTAKA

Sudarsono. 2004.  Filsafat Islam. Jakarta: Pineka Cipta.
Zar, Sirajuddin, Haji. 2004. Filsafat Islam: FilosofdanFilsafatnyaJakarta: PT. Raja GrafindoPersada.
Nasution, Hasyimsyah. 1999. Filsafat Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mustofa, H.A. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. PustakaSetia.
Nasution, Harun. 1999. FilsafatdanMistisismedalam Islam. Jakarta: PT. BulanBintang.






[1][1] Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya.(Jakarta:PT Raja Grafindo persada.2010) hlm.113.
[2][2]Ibid, . hlm.113. (mengutip M.M. Syarif , (Ed)., The History of Muslim Philosophy, (New york: Dovers Publication,1967), hlm.434.)
[3][3]Ibid, . hlm.114. (mengutip Abdul Latif Muhammad Al-‘Abd, Ushul al-Fikr al-Falsafy ‘inda Abi Bakr Al-Razi, (Kairo:al-Mathba’ah al-Fanniyah al-Hadishah,1977), hlm.14)
[4][4]Ibid. , hlm.114. (mengutip Harun Nasution, Falsafat dan Misticisme dalam Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1993), hlm. 8).
[5][5]Ibid. , hlm.115. (mengutip menurut T.J. De Boer Al-Razi wafat tahun 923 M. Lihat bukunya: Tarikh al-Falsafat fi al-Islam, diterj. Ke bahasa Arab oleh Muhammad ‘Abd Al-Hady Abu Zaidah, (Kairo: Mathba’ah Lajnat al-Ta’lif wa al-Nasyr, 1954), hlm. 115).
[6][6]Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Pineka Cipta, 2004), hlm. 54.
[7][7]Ibid. , hlm. 116.
[8][8]Dr. Hasyimsyah Nasution, MA., Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), h. 25.